Blog Pediaon

Yogyakarta

DIY, Indonesia

Punya Pertanyaan?

(+62) 821 3688 3308

Kirim Email Anda

[email protected]



Home / Blog / Tutorial Laravel untuk Pemula (Instalasi Manual)

Tutorial Laravel untuk Pemula (Instalasi Manual)

šŸ“… July 5, 2026 šŸ“‚ Hosting, Teknologi

Mencari Laravel tutorial lengkap yang mudah dipahami? Selamat, Anda berada di tempat yang tepat! Di sini, kami akan memberikan tutorial Laravel pemula yang pastinya tidak membuat Anda semakinĀ mumetĀ alias pusing.

DiĀ  websitenya,Ā LaravelĀ dengan jelas, Laravel menyatakan diri sebagai ā€œThe PHP Framework for Web Artisans.ā€Ā Artinya, Laravel dirancang untuk seniman website.

Karena itu, Laravel cocok bagi Anda yang ingin mengembangkan aplikasi dengan cara elegan. Hingga saat ini, Laravel telah membangun lebih dariĀ 1 jutaĀ website. Bahkan, perusahaan komedi terkenal sekelasĀ 9GAGĀ pun juga menggunakan framework ini, lho!

Kalau Anda meneruskan membaca sampai sini, itu artinya Anda semakin yakin untuk belajar Laravel. Nah tanpa berlama-lama lagi, yuk simak tutorial Laravel lengkap ini!

Apa Itu Laravel?

Laravel adalahĀ framework atau platform yang berfungsi untuk mengembangkan aplikasi web dengan bahasa pemrograman PHP.

Aplikasi web sendiri merupakan aplikasi yang dapat diakses melalui web browser saat tersambung dengan internet. Sehingga, pengguna tidak harus menginstal aplikasinya pada ponsel. Contohnya seperti yang dimiliki Bibit ini.

Jika Anda bertanya asal usul kelahiran nama Laravel kepada penciptanya, mungkin Anda akan merasa gemas.Ā Taylor OtwellĀ memilih nama itu karena memiliki bunyi yang mirip denganĀ Cair Paravel, istana dalam novelĀ Narnia.

Yap, sesuai imajinasi Anda, istana lekat dengan penampilan yang megah dan kehidupan mewah. Dengan menjadi raja atau ratu, kebutuhan Anda dapat terpenuhi dengan mudah.

Nah, Laravel pun juga demikian. Framework iniĀ  mampu menjadi istana coding yang developer butuhkan. Di sini tersedia berbagai jenis PHP Library dan fitur yang sangat kaya.

Dengan begitu, Laravel akan memudahkan Anda dalam mengembangkan web. Anda juga bisa membuat aplikasi web dengan cepat.

Perbedaan Laravel vs CodeIgniter

Saat membicarakanĀ framework PHP, tentunya Laravel bukanlah satu-satunya pilihan. Bahkan, di dunia ini tercatat ada lebih dari 40 framework PHP, lho.

Nah di antara puluhan opsi tersebut, pasti adaĀ framework PHP terbaik. Dan jika membicarakan popularitasnya, tentu Laravel dan CodeIgniter masuk dalam daftar juara. Lalu, manakah framework PHP yang lebih baik?

LaravelĀ cocok jika Anda ingin membangun aplikasi web yang canggih dengan fitur modern. SedangkanĀ CodeIgniterĀ lebih cocok untuk membuat aplikasi web sederhana yang menghadirkan fitur lengkap.

Jadi, jika Anda ingin membuat aplikasi web yang elegan dan kompleks, sebaiknya belajar Laravel. Namun jika aplikasi web Anda cukup sederhana, CodeIgniter bisa menjadi solusi.

Persiapan Laravel Tutorial

Untuk memudahkan belajar Laravel tutorial, ada beberapa hal yang perlu Anda persiapkan. Apa sajakah itu? Berikut jawabannya.

Apa yang Perlu Anda Pahami Sebelum Belajar Laravel?

Anda tidak bisa membuat mie instan tanpa mengetahui cara merebus air. Demikian juga dengan Laravel. Ada beberapaĀ basic knowledgeĀ yang perlu Anda ketahui untuk bisa menggunakan framework ini.

1. Penggunaan HTML / CSS

Yang pertama,Ā HTMLĀ danĀ CSS. HTML dan CSS merupakan dasar untuk membuat tampilan dan struktur alias front-end website.

Dengan kata lain, HTML dan CSS membentuk kulit dan tulang website. Sedangkan untuk membangun otak alias logikanya, Anda bisa menggunakan PHP.

2. Dasar Penggunaan PHP

Untuk belajar Laravel secara mendalam, pemahaman akan PHP sangat penting. Sebab, ini bahasa pemrograman yang Laravel gunakan.

PHP adalahĀ bahasa pemrograman dengan sistem server-side. Jadi, tugas PHP yaitu membangun back-end alias pemrograman pada sisi server.

Biasanya, PHP disisipkan ke dalam dokumen HTML dan dipadukan dengan bahasa pemrograman lain seperti CSS.

3. Dasar Framework MVC

Laravel menggunakan konsep MVC. MVC atauĀ Model-View-ControllerĀ adalah konsep yang memisahkan aplikasi web menjadi tiga bagian:

  • ModelĀ merupakan representasi dari database, table, ikon, dan file lainnya. Fungsinya untuk mengelola data, logika, dan pengaturan aplikasi;
  • View, bertugas menyajikan tampilan yang bisa dipahami manusia sesuai perintah controller;
  • Controller, berperan menghubungkan model dengan view. Controller akan menerima input dari view, mengolah komputasi dan data, kemudian memberikan respons untuk ditampilkan oleh view.

Dengan pemisahan antaraĀ tampilan (front-end)Ā denganĀ controller (back-end), Anda akan lebih memahami bagaimana Laravel memproses setiap file dan resource yang digunakan.

Menyiapkan Kebutuhan Server

Sebelum memasang laravel, Anda harus menyiapkan kebutuhan server. Sebab, proses instalasi Laravel akan dilakukan padaĀ web server.

Web server yaitu sistem komputer untuk menyimpan data dan file penunjang website agar dapat ditampilkan pada web browser. Server ini akan Anda gunakan untuk men-deployĀ atau mengimplementasikan program.

Supaya lancar saat melakukan Laravel tutorial, pastikan server Anda memenuhi persyaratan berikut.

  • Web server
  • PHP >= 7.3
  • Ekstensi PHP
    1. BCMath PHP Extension
    2. Ctype PHP Extension
    3. Fileinfo PHP Extension
    4. JSON PHP Extension
    5. Mbstring PHP Extension
    6. OpenSSL Php Extension
    7. PDO PHP Extension
    8. Tokenizer PHP Extension
    9. XML PHP Extension
  • MySQL (atau sumber database lainnya)
  • Composer
  • IDE seperti VS Code atau Atom (opsional)

Nah, bagaimana sih caranya mendapatkan server yang memenuhi kebutuhan di atas?

Kalau pingin mudah, Anda bisa lho menggunakan server hosting untuk menjalankan website yang dibangun dengan Laravel.

Bagi Anda yang menggunakan layanan hosting Hostinger, tidak perlu pusing. Sebab, webhosting Indonesia Hostinger sudah sepenuhnya mendukung penggunaan Laravel.

Setelah server sudah sesuai, Anda makin siap untuk belajar Laravel tutorial lebih jauh.

Menginstal Composer

Tutorial Laravel pemula berikutnya yaitu menginstal Composer. Laravel menggunakan Composer untuk mengelola libraries yang dipakai Laravel dalam suatu proyek. Karena itu, Composer juga dijuluki sebagaiĀ dependencyĀ atauĀ library managerĀ untuk PHP.

Dengan composer, pekerjaan Anda akan jauh lebih efisien. Sebab, composer mampu menyederhanakan pekerjaan sehingga Anda tidak perlu memberi perintah berulang kali. Selain itu, pemrograman PHP Anda juga jadi lebih rapi.

Jadi sebelum menginstal Laravel, pastikan Anda sudah menginstal Composer.

Cara Install Laravel

Setelah Composer selesai terinstal, tahap berikutnya yaitu memasang Laravel. Ada berbagai jalan untuk melakukannya. Di antara tiga cara berikut, silakan pilih cara install Laravel yang paling sesuai dengan kebutuhan Anda.

Cara Install Laravel di Windows

Apakah Anda menggunakan Windows sebagai sistem operasi? Jika iya, Anda membutuhkan empat langkah saja untuk menginstal Laravel, yaitu:

  1. Masuk Command Prompt;
  2. Masuk ke folder XAMPP;
  3. Mulai proses instalasi Laravel;
  4. Cek instalasi Laravel di web browser.

Untuk mengetahui penjelasan detail cara install Laravel di Windows, silakan tekan tombol di bawah ini.

Cara Install Laravel di Ubuntu

Nah jika Anda menggunakan Ubuntu, penjelasan ini akan lebih cocok. Bagaimana ya cara install Laravel di Ubuntu? Mari ikuti langkah-langkah berikut.

  1. Update repository pada Ubuntu;
  2. Instal Apache;
  3. Instal MySQL;
  4. Instal PHP;
  5. Instal Laravel;
  6. Konfigurasi Apache;
  7. Aktifkan modul Laravel;
  8. Restart Apache;
  9. Cek Laravel.

Dibandingkan dengan Windows, cara install Laravel di Ubuntu memang lebih panjang. Namun, jangan khawatir. Kami akan terus membantu sehingga Anda gampang mengikutinya.

Cara Install Laravel di cPanel Hosting

Cara install Laravel berikutnya yaitu melalui cPanel Hosting. Setidaknya ada 5 tahap yang perlu dilalui:

  1. Login cPanel Hosting;
  2. Akses fitur Softaculous Apps Installer;
  3. Menjalankan script instalasi Laravel;
  4. Pengaturan di Software Setup;
  5. Selesai! Laravel berhasil di-install.

Untuk menyelesaikan langkah-langkah di atas, prosesnya hanya dalam hitungan menit saja kok. Struktur Folder Laravel

Selesai menginstal Laravel, pasti Anda makin tidak sabar untuk belajar Laravel. Anda mencoba membuat web app pertama Anda. Namun, sesaat kemudian Anda menemukanĀ app folder berisi berbagai folder dan file yang namanya asing.

Nah, untuk menghapus rasa bingung Anda, kami akan menjelaskan struktur folder Laravel ini.

App

Yang pertama, folder App. Folder ini berisi kode inti yang terdiri dari lima folder, yaitu:

  • Console, folder ini berisi semua perintah Artisan yang dibuat denganĀ make:command;
  • Exception, folder ini berisi semua handler pengecualian dan folder ini bagus untuk menambahkanĀ classĀ yang sudah disesuaikan sendiri untuk menangani pengecualian yang diberikan aplikasi;
  • Http, folder ini berisi fungsiĀ controllers, middlewareĀ danĀ requests;
  • Models, ini adalah direktori baru yang ditambahkan sejak Laravel 8. Fungsinya untuk menyimpan file Model;
  • Providers, folder ini berisi semua penyedia layanan (service provider) untuk aplikasi. Penyedia layanan (service provider) merupakan tempat utama untuk bootstrap Laravel atau bisa diartikan sebagai bagian utama untuk mengkonfigurasi aplikasi.

Bootstrap

Berikutnya, ada Bootstrap. Folder ini berisi semuaĀ frameworkĀ bootstrapĀ begitu juga dengan file konfigurasi. Folder ini juga memuat direktoriĀ CacheĀ yang berisi file cache yang dihasilkan oleh framework.

Config

Folder ini berisi semua file konfigurasi aplikasi.

Database

Folder ini berisi semua database migrasi dan seeds.

Public

Folder ini berisi semuaĀ assetsĀ seperti gambar, file javascript, dan CSS.

Resources

Folder ini berisiĀ assetsĀ mentah seperti file LESS & Sass, pengaturan waktu, dan bahasa.

Routes

Folder ini berisi semua rute yang didefinisikan pada aplikasi.

Storage

Folder ini berisi penyimpanan App, seperti unggahan file,Ā cache, danĀ log.

Test

Folder ini berisi semua file percobaan.

Vendor

Folder ini berisi semuaĀ file dependency.

Melakukan Konfigurasi

Sekarang, Anda sudah lebih memahami struktur folder dan fitur Laravel. Namun, rasanya masih kurang jika Anda belum melakukan konfigurasi atau pengaturan agar framework lebih siap pakai.

Karena itu, kami akan membahas konfigurasi dasar yang disarankan untuk Anda lakukan.

1. Amankan Data MenggunakanĀ Application Key

Konfigurasi pertama yaitu mengamankan data. Jika kunci ini tidak diterapkan, bisa membahayakan aktivitas pengguna dan datanya.

Nah, pengamanan ini dapat dilakukan dengan mengubahĀ application keyĀ (kunci aplikasi) ke string acak.

Caranya, Anda bisa mengeksekusi perintahĀ php artisan key:generate.Ā  Akan ada file .env pada direktori root yang berisi string dengan panjang 32 karakter. Jika tidak ada, Anda bisa menyalin file .env.example menjadi file .env.

2. Konfigurasi Environment

Dari tahap konfigurasi sebelumnya, Anda sudah mendapatkanĀ file .envĀ ataupunĀ file .env.example. Kedua file ini akan berada di bawah folder vendor.

Nah, selain untuk mengamankan data, file .env juga berperan mengatur konfigurasi environment, lho.

Environment perlu diatur karena setiap developer memerlukan konfigurasi yang berbeda sesuai dengan kebutuhan aplikasi. Misalnya seperti penentuan database, email server, dan lain-lain.

Jika berkolaborasi dengan tim, Anda bisa menyertakanĀ file .env.exampleĀ bersamaan dengan aplikasi. Isinya berupa contoh file konfigurasi yang sudah diisi dengan nilai-nilai tertentu. Dengan begitu, tim akan mengetahui variabel apa saja yang dibutuhkan untuk menjalankan aplikasi.

3. Pengaturan untuk Direktori Public

Pada kasus tertentu,Ā web serverĀ tidak bisa langsung memanggil file index.php yang berada pada folder public Laravel. Jadi Anda perlu mengarahkanĀ web serverĀ untuk memanggil dokumen atau web root ke folder public.

Perlu diketahui, jika Anda menjalankan Laravel pada web server lokal, maka Anda perlu mengubah hak akses pada folder storage dan bootstrap/cache menjadi 777 dengan chmod.

$ chmod 777 -R /blog/storage
$ chmod 777 -R /blog/bootstrap/cache

Folder ā€œblogā€Ā merupakan folder instalasi Laravel. Jika hak akses ini diatur, Anda bisa mengakses file indeks tanpa perlu menjalankan perintah ā€œphp artisan serveā€. Akan tetapi, folder harus berada pada folder web server.

4. PengaturanĀ Cache

Supaya aplikasi dapat berjalan dengan cepat, Anda harus mengatur cache pada Laravel dengan menggunakan perintahĀ config:cacheĀ pada saat proses produksi.

$ php artisan config:cache

5. Konfigurasi Lain

Jika Anda ingin mengatur konfigurasi lain seperti pengaturanĀ timezoneĀ &Ā localeĀ padaĀ config/app.phpĀ yang bisa Anda sesuaikan dengan kebutuhan aplikasi.

Semua konfigurasi file ada di folder config, jadi Anda bisa membuka folder tersebut untuk mengetahui apa saja konfigurasi yang disediakan.

Mengenal Mode Pemeliharaan pada LaravelĀ 

Pasti, akan datang saatnya Anda melakukan perbaikan pada aplikasi. Tentunya, sangat mengganggu bukan jika selama proses perbaikan Anda terus menerima notifikasi error dari pengunjung?

Nah, untuk mengatasinya, silakan nyalakan maintenance mode. Dengan maintenance mode, Anda bisa lebih fokus dan nyaman dalam memperbaiki aplikasi. Sebab, tidak ada antrian error yang Anda terima.

Selain itu, Anda juga bisa menampilkan halaman pemeliharaan kepada pengunjung atau mengarahkan mereka ke halaman lainnya.

Untuk mengaktifkan mode pemeliharaan, Anda bisa menggunakan perintah berikut:

$ php artisan down

Maka pada aplikasi akan muncul halaman mode pemeliharaan atau yang dikenal dengan Error 503.

Jika sudah selesai, silakan matikan mode pemeliharaan dengan perintah up.

$ php artisan up

Tampilan fitur mode bisa Anda atur padaĀ folder resources/views/errors.

Cara Upload Laravel ke Hosting

Sampai sini, Anda sudah lebih memahami tutorial Laravel pemula. Sekarang, kami akan membantu Anda untuk mengetahui cara upload Laravel ke hosting. Sebelumnya, pastikan dulu poin-poin ini sudah siap:

  • Hosting sudah mendukung Laravel;
  • Akses ke cPanel hosting;
  • File Laravel.

Kalau semuanya sudah siap, Laravel tutorial berikutnya mengupload Laravel ke hosting. Kami akan memberitahu Anda cara yang paling mudah, yaitu menggabungkanĀ folder ā€œpublikā€Ā denganĀ folder ā€œlaravelā€.

  1. Arahkan rute ke folder Laravel;
  2. Compress seluruh file Laravel;
  3. Akses halaman cPanel hosting;
  4. Klik fitur ā€˜File Manager’;
  5. Upload file Laravel;
  6. Tes hasil upload file Laravel.

Anda bisa menyelesaikan seluruh tahap di atas dalam hitungan menit, lho. Jadi jangan salah mengira cara upload Laravel ke hosting itu sulit.

Penutup

Nah, Anda sudah menyelesaikan tutorial Laravel lengkap untuk pemula. Sekarang, Anda mengetahui bahwa Laravel merupakan framework PHP yang cukup andal dan elegan.

Meski demikian, memang ada basic knowledge dan hal-hal yang perlu Anda persiapkan untuk bisa menggunakan Laravel. Seperti pemahaman akan HTML dan CSS, PHP, MVC, dan lain-lain.

Namun, hasil yang akan Anda dapatkan nantinya juga cukup setimpal. Laravel mampu menjadikan sistem Anda lebih canggih dan aman. Selain itu, Laravel juga menawarkan kesederhanaan dalam penulisan kode.

Bahkan, Anda bisa untuk membuat berbagai jenis website, sepertiĀ blogĀ dan lainnya menggunakan Laravel.

Akhir kata, semoga Laravel tutorial ini memudahkan Anda dalam belajar Laravel, ya! Jangan lupa untuk menekan tombolĀ SubscribeĀ agar bisa mendapatkan update info lainnya. Sampai jumpa di lain artikel!

Soni Indratmoko

Penulis aktif di Pediaon yang membahas teknologi, website, WordPress, digital marketing, dan berbagai tutorial internet.
ARTIKEL

Lainnya

One Response